“VIDEO SKANDAL NYEPONG DIDALAM PERPUSTAKAAN KAMPUS”
(Ditinjau dari Sosiologi Perilaku Menyimpang)
“Dari kamera handphone yang mengamati dari sebuah jendela kaca, terekam sebuah adegan yang bisa dikatakan sebagai perilaku menyimpang dalam bentuk adanya seorang pemuda dan seorang pemudi dalam umur sekolahan dan terlihat masih menginjak bangku peerkuliahan yang sedang duduk dibelakang sebuah menja bundar berwarna putih dari sebuah ruangan perpustakaan (Meminjam istilah kru Skodeng dari www.Mykakis.net bahwa mereka terlihat "duduk ditempat tersendiri/terpisah”). Si pemuda yang ber-ras Melayu yang memakai baju kaos putih, berambut pendek dengan celana jeans berwarna hitam. Dia terlihat sedang membaca sebuah buku yang diletakkan di atas sebuah meja bundar berwarna putih yang berada didepannya. Hal ini tentunya merupakan pemandangan yang biasa terlihat dalam sebuah perpustakaan kampus tapi menjadi tidak biasa lagi karena sementara terlihat dia sedang membaca buku, kadang-kadang dia melihat kebawah meja bundar tersebut tepatnya meliahat kebagian pangkal paha sebelah kanannya. Jika diamati dengan teliti (Dari kamera handphone yang kesan pengambilannya secara sembunyi-sembunyi) terlihat seorang gadis yang memakai jilbab putih dan baju kurung berwarna biru. Dia melakukan ‘Oral sex atau Nyepong’ (Orang-orang yang sudah dewasa tentu saja mengetahui apakah ini!) terhadap si pemuda tadi yang kadang-kadang mengelus-elus kepala si gadis yang terbungkus oleh kain jilbab putih tersebut. Dari kamera handphone terlihat bahwa mulainya perekaman adegan tersebut terlihat lebih kurang selama dua menit mereka melakukan hal itu sampai mereka terlihat kaget ketika ada suara yang mengejutkannya (seperti orang yang sedang menutup pintu dengan keras) di depan ruangan dari perpustakaan kampus tersebut. Setelah itu si gadis terlihat duduk seperti biasanya sambil merapikan kain jilbab putihnya dan langsung membaca sebuah buku di atas meja di depannya seperti yang dilakukan si pemuda sebelumnya. Seperti itulah adegan yang terlihat seterusnya dalam rekaman kamera handphone sampai adegan yang direkam dialihkan atau dihentikan oleh si pengguna handphone”. Diamati dari potongan video clip situs www.Mykakis.net.
Hanya satu kata ketika melihat adegan tersebut diatas; “Ironi!”. Dalam pandangan Sosiologi bahwa adanya ketimpangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi. Seorang gadis yang memakai jilbab mengapa terlihat berdua-duaan dengan seorang pemuda dalam sebuah ruangan tanpa adanya orang ketiga yang menemani mereka (telah melanggar nilai-nilai keagamaan, namun karena seorang Sosiolog harus bebas nilai maka di ‘positive thinking’ kanlah bahwa mereka itu mungkin saja pasangan suami istri yang rumahnya sedang digusur) dan seorang mahasiswa dan mahasiswi yang seharusnya belajar bersama dengan teman group diskusi mereka tapi malah mengapa hanya berdua saja untuk belajar dalam sebuah ruangan perpustakaan, apakah mereka lupa atau tidak tahu mengenai perkataan Emile Durkheim bahwa sebuah masyarakat itu walaupun terlihat mati namun sebenarnya sedang hidup sampai akhirnya kru Skodeng menembak adegan deviasi mereka”.
Jika sebenarnya mereka adalah pasangan suami-istri, hal tersebut akan menjadi sebentuk relatifitas kebudayaan, tapi jilka tidak mereka berarti telah melakukan sebuah perilaku menyimpang berjenis hubungan seksual diluar pernikahan. Jika dilanjutkan pembahasannya dapat dijelaskan melalui teori kontrol. Dari kungkungan dalam dirinya dengan poin pertama adalah keimanan nyata-nyata bahwa mereka tidak mengetahui tentang nilai-nilai agama yang mengatur mengenai perilaku seksual (Atau disini bahwa mereka tidak mengetahui akan konsep Freud tentang instink seksuil yang untuk reproduksi) walaupun dalam kasus ini adanya seorang deviant yang memakai simbol agama yang dinilai memiliki pandangan umum tersendiri terhadap agama terkait (tapi karena adanya kejadian itu berkemungkinan akan menimbulkan apriori yang jelek bagi gadis berjilbab lainnya dan agama yang bersangkutan). Kedua, konsep diri. Walaupun si gadis tersebut memakai jilbab namun berkemungkinan jilbabnya itu sebagai tindakan sosial rasional nilai (“Gue adalah seorang gadis berjilbab jadi tentu saja orang-orang disekitarku menganggap bahwa gue adalah seorang perempuan yang saleh dan alim apalagi dengan buku yang gue baca ini, jadi gue hanya mau belajar bersama cowok gue yang terlihat pintar dan sederhana, tapi…mengapa gue ngerasa libido gue jadi ‘on’ karena duduk dengan cowok gue ini, mmm…mungkin karena gue habis nonton film porno dirumah teman gue semalam….lebih baik gue tiru juga dech aksi sex yang ada di film itu!”) dan si pemuda yang telihat sederhana dan terpelajar (“Mmm…gue adalah seorang mahasiwa senior disini dan terlihat sebagai seorang yang alim, jadi gue harus duduk dan belajar dengan pacar gue dibagian belakang dari ruangan perpustakaan ini sambil mengawasi mahasiswa junior yang terlihat nakal…dan gue harus mengambil sebuah buku untuk pura-pura dibaca…tapi mengapa buku yang gue ambil secara sembarangan ini membahas mengenai organ reproduksi wanita dan ada gambarnya pula lagee…sialan! Hal ini membuat instink seks gue menjadi timbul nih, lagipula ada pacar gue disamping lagi!”) Terakhir merupakan kekuatan ego. Keinginan pribadi mereka untuk mengisi ‘waktu-waktu pacaran‘ mereka dengan belajar hanya berdua saja di perpustakaan kampus membuat mereka ‘sadar status’ dan merasa bebas untuk memilih tempat atau ruangan untuk duduk di ruang perpustakaan yang biasanya orang-orang yang mengunjungi perpustakaan akan sibuk dengan buku yang sedang mereka baca sampai akhirnya mereka melakukan adegan ‘nyepong’ tersebut.
Dari aturan yang berasal dari luar dirinya diasumsikan bahwa mereka memandang remeh terhadap aturan-aturan yang datang dari orangtua atau pun teman-teman dan juga pranata dari perpustakaan tersebut (“Mmm…orang tua gue sedang jauh-jauhnya dikampung…jadi siapa yang akan ngelarang dan tahu mengenai kelakuan gue ini” atau “Lihat penjaga perpustakaan itu, dia terlihat tua dan norak serta terlihat bodoh dengan kacamata minus yang tergantung hampir jatuh menyentuh ujung hidungnya…gue rasa gue bisa mengaturnya untuk kebebasan kita di ruang perpustakaan ini!”).
Bila penulis membayangkan diri penulis sebagai Traverhirschi dengan “Keterikatan terhadap Masyarakat”nya mungkin penulis dapat mengatakan bahwa aksi tersebut terjadi karena tiadanya keterikatan satu dengan yang lainnya (“Mmm…teman-taman kita dakampus ini pada kuno-kuno dan kolot…mengapa masa muda seperti ini di isi dengan belajar dan belajar saja tanpa tahu apa itu artinya pacaran, lebih baik kita tidak bergabung dengan komunitas diskusi mereka, abis membosankan sech!”), komitmen untuk bekerjasama (“Sayang…gue gue rasa elu merasa bosan dengan rumus-rumus yang di diskusikan dengan teman-teman belajarmu itu…lebih baik kita ke pustaka en gue akan mengajarkan elu mengenai rumus-rumus itu!!”), terlibat dalam aktivitas yang jelas (“Pacarku…kamu bisa pura-pura tidur di paha gue karena kelelahan belajar dan nyepongin gue saat semua pengunjung perpustakaan ini sibuk dengan aktivitas membaca mereka!”) dan kepercayaan terhadap aturan-aturan sosial yang valid (“Karena sudah sore hari pengunjung perpustakaan ini mulai sedikit dan kita bisa bebas untuk membaca buku yang kita inginkan serta memilih ruang untuk duduk…dan ketika penjaga pustakanya pergi keluar untuk suatu kegiatan kita lakukan ‘oral sex’!”). Begitulah kira-kira…
Terima kasih untuk www.Mykakis.net
12 Nov 07 10
Monday, October 26, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment