KONDOM SEBAGAI INOVASI
(Tinjauan Sosiologi Perilaku Menyimpang)
Kata ‘Kondom’ bila ditelusuri dapat berasal dari kata dalam bahasa Inggris; “Cone” yang berarti panjang tirus dan ”Dome” yang berarti kubah melengkung atap atau merupakan setengah bulatan. Kata-kata tersebut mengkonsepkan bentuk kondom itu sendiri secara materi; terbuat dari silikon atau pun plastik (Polyurethania) dengan diameter sekitar 7 cm dan panjang 17 cm dengan ujung setengah bulatan dan dalam perkembangannya mempunyai variasi dalam hal warna, bentuk dan rasa (”Kaya’ permen aja dimana ada rasa Strawberry, durian, pisang, melon, anggur mint dan lain sebagainya!”).
Dalam prakteknya, fungsi manifest dari kondom itu sendiri adalah sebagai alat dalam melakukan hubungan seksual dimana kondom bisa menjadi penghambat atau mencegah terjadinya pertukaran cairan tubuh sewaktu nge-sex dengan pandangan umum asalkan kondom dipakai secara benar virus HIV-AIDS dari partner sex tidak dapat menembus dinding kondom dan kalau terlibat hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan, kondom merupakan alat pelindung terbaik untuk mencegah terjadinya Infeksi Menular Seksual dan mencegah terjadinya kehamilan (“Kalau Gay nge-sex gimana ya? Mmm…mungkin hamilnya dibokongnya kalee!”) serta katanya dapat meningkatkan kenikmatan dalam berhubungan seks.
Dalam masyarakat sendiri, penggunaan kondom sangat tergantung dari status individu dalam masyarakat. Seorang anak berumur setingkat Sekolah Dasar yang pergi ke sebuah supermarket dan melihat pajangan kondom dengan rasa Strawberry, durian atau pun pisang tentu akan menyangkanya sebagai permen sehingga akan membeli dan ingin menghisapnya tanpa pensosialisasian dari si pelayan Supermarket tersebut. Begitu pun dengan seorang berstatus mahasisiwa yang sudah lama berpacaran dengan pacarnya yang sering ’bertingkah’ seakan-akan ingin cepat nikah. Karena keimanan dari agama warisan orang tua tentang instink seksual yang kurang atau tidak ada sama sekali sehingga tidak berani mengambil sikap yang membuatnya kepikiran untuk mengkonsumsi kondom yang bisa saja karena kontrol masyarakat tempat dia membeli kondom yang masih kuat (Sehingga bisa saja menimbulkan sanksi informal atau formal (?) yang bersifat negatif) akan mentransisikan perannya sebagai seorang ’bapak-bapak’ plus kumis yang melintang dibawah hidungnya dan dengan percaya diri akan pergi ke apotik, toko obat atau supermarket yang menyediakan kondom dimana dengan banyaknya duit kiriman dari orang tua untuk membooking hotel, beli kondom dan ’raun-raun’ dengan sang pacar. Temannya yang pernah menyatakan bahwa dengan memakai ’pelindung’ kegiatan ngewe akan menjadi lebih ’uenak tenan’ maka dia akan berkeinginan untuk menggunakannya sehingga ’junior’nya yang bisa saja calon-calon tukang jual VCD bajakan, maling, gigolo, koruptor, gembel dan ’sampah masyarakat’ lainnya tidak akan jadi hadir ke dunia.
Femidon yang merupakan kondom untuk wanita bisa dilihat sebagai fenomena emansipasi wanita itu sendiri dalam masyarakat metafisik yang mengarah ke positif (a la Comte). Femidom yang secara materi bila diamati berupa silinder berbahan polyuretan atau plastik dengan diameter lebih kurang 7 cm dan panjang 17 cm serta secara subjektif dinilai kurang ‘manis’. Fungsi manifestnya untuk menutupi dinding vagina dan mulut rahim sehingga sperma tidak bisa masuk dan menjadi solusi agar terhindar dari HIV/AIDS dan Penyakit Menular Seksual (P.M.S) lainnya. Penggunaan femidom dicontohkan oleh seorang gadis model, pemain sinetron yang mempunyai pemikiran lewat opini yang dilontarkannya ketika ditanyai oleh sebuah majalah entertainment tentang perilaku seks bebas dikalangan artis; ”Anda tahu, jaman sekarang, menunda untuk menikah demi karir dan lainnya itu hal biasa. Tapi, anda juga perlu tahu, sebagai manusia biasa, yang norma-norma secara biologis, saya terus-terang saja butuh seks dan banyak kesempatan untuk melakukannya, ditempat-tempat tertentu atau pada waktu tertentu. Memang, menikah adalah solusi untuk keluar dari free-sex, tapi, anda perlu dari menikah itu untuk seumur hidup. Kita tidak bisa memilih pandangan hidup untuk selamanya sama dengan kita memilih pacar”. Keinginannya untuk menggunakan femidom (“Terlepas dari apakah cewek ini free-girl atau ‘Bagong Lieur’ sekalipun yang suka mentransiskan perannya”) tentu untuk mencegah kehamilan yang akan membuat karirnya mandeg (“Ah, gue nggak mau ngelahirin anak yang tampanganya kaya’ monyet nih karena gue pengen anak yang tampangnya kaya’ bintang cowok film India!”) ataupun agar dia bisa terhindar dari AIDS dan P.M.S lainnya (“Iiih…nggak kebayang dech gue dapat Raja Singa nantinya, mending gue dapat Raja Duit!!!”).
Akhirnya, penggunaan dan keberadaan kondom hanya dapat dipandang sebagai sebentuk inovasi karena adanya kenisbian budaya itu sendiri walaupun dari segi nilai-nilai (pranata) agama, hal itu kurang memadai untuk mencapai tujuan karena ketidak biasaannya (“Kalau agama khan nyuruh nikah untuk nge-seks, kalau individu dengan iman lemah yang abstrak malah nyuruh make kondom!”) termasuk cara-cara yang terlarang dan bisa saja dikondisikan merupakan perilaku menyimpang yang dalam hal ini bisa saja dikondisikan pada adaptasi terhadap situasi ketika instink seksuil di stimulus.
Sbt 081207
08 pg
Monday, October 26, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment