Monday, October 26, 2009

Berlaku Humanis Terhadap Deviant

Berlaku Humanis Terhadap Deviant



Membaca artikel tentang Perilaku yang Menyimpang, baik itu hubungan sex luar nikah maupun penyalahgunaan zat adiktif memang ‘gampang-gampang susah’. Maksud ‘gampang-gampang susah’ disini melibatkan subjektifitas pembaca yang menyangkut emosi, perasaan maupun nilai-nilai pribadi manusia yang cenderung pada nafsu menyenangkan sedangkan ‘sulit’ karena akan bisa memancing emosi untuk mengutuk tindakan tersebut bila mempunyai nilai-nilai agama yang cukup ekstrim orthodoks. Bi sa dibayangkan bila yang membacanya malahan akan berkata, “Sialan kamu, mampus kamu!”, sambil menunjuk pada naskah bacaan karena saking terbawa perasaannya.

Bagi ilmuwan sosial, hal tersebut merupakan semacam bentuk Deviasi Sosiopatik sehingga pelakunya perlu dilabeli dengan J.D Girl, Free-Girl, Gadis Panggilan, Gadis-gadis Taksi, ‘Junkie’, ‘Tukang Teler’ dan bahasa slang lain sebagainya sebagai penjelas status mereka dalam masyarakat. Namun bagi kalangan yang kurang nilai agama tentu akan menjadikan mereka sebagai Ce-es dan bagi yang ekstrim orthodoks terhadap nilai agama tentu akan ‘membuang muka’ dan merasa tidak senang terhadap mereka.

Sesuai dengan judul tulisan yang dikhususkan bagi ilmuwan sosial (bahasa kerennya sosiolog) maka berlaku Humanis perlu diberlakukan agar tetap ‘Rahmatan ‘lil ‘alamin’. Berlaku Humanis yang berarti berlaku manusia dalam artian memahami bahwa ‘mereka’ merupakan insan/individu yang memiliki perasaan/keinginan serta kemampuan untuk merasakan. Hal ini diupayakan agar mental seorang ilmuwan sosial/sosiolog tetap stabil dan tidak malahan menjadi ’Mental Disorder’ yang nantinya malah ‘nyimeng’.

Untuk berlaku Humanis terhadap para Deviant, seperti dicontohkan; bila membaca barisan kalimat, “Selain Vivi, banyak ABG lain yang mengaku menjalani profesi penjaja seks karena terpaksa untuk menutupi biaya sekolah atau kuliah. Namun tak sedikit pula yang menggeluti dunia esek-esek itu akibat terjerat obat-obatan terlarang”. Disini, kita lihat bahwa pelaku berusaha menutupi biaya sekolahnya dengan menjadi penjaja seks yang menimbulkan kegeraman karena mencampur adukkan yang benar dan yang salah serta kebodohan pelaku melakukan deviasi sosiopatik bersifat jamak.

Pada kasus pertama agar mental tidak Disorder bisa dihumanistisan dengan berpikir mungkin saja pelaku tidak diperhatikan oleh orangtuanya atau tidak memperhatikan orangtuanya (durhaka) sehingga ‘terjerumus’ atau merasa terlalu punya nilai fisik yang cukup tinggi untuk dijual karena ketiadaan ekonomi dan nilai-nilal keimanan minus juga. Ataupun berpikiran bahwa pelaku seorang santri ditempat asalnya sehingga sesampainya dikota besar merasa semua hal terlihat keren dan modern sehingga status santrinya terlepas begitu bergaul dengan para ‘preman kota’.



Rabu, 11 April 2006 9 malam

No comments:

Post a Comment