Sunday, October 25, 2009
PANDANGAN UMUM PEKERJA SEKS KOMERSIL
Perempuan yang terjun ke 'lembah hitam' sering merasakan kemudahan dalam mencari uang lewat pekerjaannya itu sehingga bisa membeli segala sesuatunya atau barang-barang mewah yang diinginkannya. Dengan mencari teman kencan dari kalangan eksekutif dan pengusaha membuat para pekerja seks komersil merasa mempunyai gaya yang menyangkut prestise dalam masyarakatnya. Disini juga patut kita lihat bahwa kadang seorang individu merupakan produk dari masyarakatnya (Paradigma Scientific). Bila masyarakat dimana pekerja seks komersil tersebut berada begitu permisif terhadap perilaku menyimpang yang dilakukan anggotanya maka hal tersebut mereka anggap bukan melanggar norma-norma, apalagi dengan dijadikannya perilaku menyimpang tersebut sebagai suatu status sosial dalam masyarakat, jadilah mereka tersebut mempunyai peranan sosial pula dalam masyarakatnya yang nantinya dapat kita ketahui lewat simbol-simbol status sosial mereka dalam masyarakat. Hal tersebut nantinya akan melahirkan rasa senang sebagai pekerja seks komersil dan menganggap bahwa pekerjaan tersebut mempunyai suatu status sosial tertentu dalam masyarakat yang mempunyai gengsi atau prestise bagi para pe-es-ka itu sendiri, sehingga pelabelan (Paradigma Humanistic) masyarakat terhadap pekerjaan tersebut bukan merupakan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma agama.
Persoalan-persoalan psikologis akibat gaya hidup modern menjadi pemicu para perempuan pe-es-ka melakukan pekerjaan tersebut. Gaya hidup modern karena globalisasi budaya merupakan akibat dari adanya akumulasi kapital dari para kapitalis dan karena perkembangan teknologi komunikasi sehingga hal-hal yang berbau feminitas bagi perempuan begitu dibutuhkan. Tayangan-tayangan iklan di televisi, majalah, koran, internet dan media promosi lainnya melahirkan budaya konsumen yang cenderung dikondisikan untuk kaum perempuan. Hal ini bila menimpa remaja putri, maka akan membuatnya butuh tuntutan dari dalam dirinya untuk selalu sama ataupun lebih dari teman-teman dalam pergaulannya. Bila kontrol dari dalam diri si remaja berupa aturan-aturan dalam diri (inner countainment) dan aturan luar diri (outer containment) si remaja putri tersebut kurang kuat maka ia akan memilih untuk berperilaku menyimpang menjadi seorang pekerja seks komersil. Apalagi hal itu didukung oleh adanya perbedaan lingkungan pergaulan (Differential Association) atau pun identifikasi pada kelompok tertentu tentu akan memudahkan diri si remaja perempuan tersebut untuk terjun dalam perbuatan yang menjurus pada perilaku menyimpang.
Akhir hari di tahun 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment