Monday, October 26, 2009
MUSIK, MANUSIA DAN RASIONALITAS
Istilah ‘Musik’ dapat diartikan sebagai bunyi-bunyian terutama bunyi-bunyian yang berasal dari negara Barat. Bunyi-bunyian tersebut seiring perkembangan zaman saat ini dapat dimaksudkan sebagai perangkat alat permainan band seperti gitar, bass, drum, keyboard dan lain sebagainya yang terus diproduksi menjadi lebih modern sejalan dengan praktek kapitalisme. Berarti dalam hal ini sebuah akulturasi terjadi bila manusia dari timur mulai memainkan perangkat alat permainan band tersebut tanpa harus bersikap untuk mengetahui; “ngapain seech manusia barat mengkonsumsi peralatan-peralatan band tersebut?”.
Manusia dari timur yang dimaksud sebelumnya tentu orang-orang yang dalam masyarakat statusnya di labeli sebagai seniman dimana seorang seniman dalam berkarya takkan terlepas dari perenungannya yang berwujud ekspresi nantinya, nilai-nilai filsafat tentang kehidupan manusia maupun atas dasar kejiwaan terutama lapisan bawah sadar atau mungkin di lapisan yang tidak disadari dari seorang seniman itu sendiri. Hal tersebut akan mewujudkan karya seorang seniman tersebut bersifat emosional ataupun romantik.
Rasionalitas itu sendiri dapat diartikan sebagai hal-hal yang patut, layak dan dapat diterima menurut pikiran yang sehat. Kata rasionalitas ini tentu bertentangan dengan karya-karya seorang seniman dimana dimisalkan lewat lagunya dia bersyair; “Wajahmu yang elok seindah bulan purnama”. Syair tersebut bisa saja ekspresi jiwa si seniman dalam mengungkapkan kekagumannya terhadap kecantikan seorang gadis dimana lewat perilakunya yang terlihat nyentrik dan aneh serta susah dipahami oleh si gadis tersebut saat si seniman menyatakan kekagumannya terhadap kecantikan wajah si gadis. Hal itu tentu berbeda dengan si seniman atau pun oleh lingkungan kelompoknya yang sangat memahami akan tindakannya pada si gadis tersebut.
Manusia dari timur yang umumnya konformitas terhadap norma-norma tindakan ketika melihat seorang perempuan bernyanyi, apakah itu di televisi, kafe, pub maupun di atas panggung festival band dengan pakaian terbuka dalam artian tidak berbaju kurung atau berkerudung tentu akan segera menyangka dia sebagai pelacur yang sedang menjual dirinya dengan bernyanyi karena nilai-nilai manusia timur yang kebanyakan masih belum bersedia menerima pengalaman-pengalaman baru atau bersikap terbuka pada perubahan tanpa berani bertanya pada si penyanyi perempuan tersebut; “Mbak, apakah mbak seorang pelacur yang bisa saya pakai?” sehingga ada kejelasan dari status si perempuan yang bernyanyi tersebut (Terlepas dari tamparan atau pengusiran dari penonton lain atas pertanyaannya tersebut). Dalam hal ini tak jarang akan ditemui manusia timur yang bermusik atau berkesenian karena ingin mempertahankan statusnya sebagai seniman akan ’terjun’ ke perilaku yang menyimpang seperti penyalahgunaan narkotik, tawuran, hubungan seks di luar nikah, homoseksualitas maupun alkoholisme yang bisa saja di karenakan ketidakrasionalitasannya yang dipadu dengan nilai humanistis terhadap objek seninya plus nilai-nilai agama maupun normatif tanpa menyadari akan kenisbian budaya dimana bisa saja dibayangkan seorang seniman yang oleh penghulu disuruh untuk mencari seperangkat alat shalat karena kecintaannya terhadap seorang gadis namun akhirnya malah mencari seperangkat alat musik untuk nge-band, maupun dikarenakan konflik peran yang dialaminya (“Tukang jual sayur kok ngotot ingin terus mainin gitar Ibanez?”). Namun akhirnya bisa saja karya seninya tersebut menjadi lagu yang paling banyak di request oleh para penggemar karyanya lewat media massa yang ada sehingga musik, si manusia seniman dan keirasionalitasannya tersebut menjadi populer dalam satu waktu.
Mgu 021207
09.30 mlm
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment