Monday, October 26, 2009
MALING YANG MULTI STATUS
"Gila..! benar-benar gila!" Sedemikian parahnyakah kemiskinan yang melanda masyarakat kita sehingga mau mencuri sebuah pagar besi dari sebuah rumah yang masih berpenghuni? Namun begitulah fakta yang terjadi...rumah tetanggaku yang letaknya berseberangan dengan rumahku pada pagi hari terlihat pagar rumahnya cuma tinggal sebelah akibat yang sebelahnya lagi telah dicuri oleh maling pada malam harinya. Tetanggaku yang statusnya seorang wiraswastawan mengharuskannya 'pergi pagi pulang malam' dan tak sempat untuk sekedar bergadang sampai larut malam sekedar mengawasi mobil kerjanya yang tanpa 'kandang'. Sementara kondisi rumah dan kompleks perumahan sendiri berada ditengah jalan yang sering dilalui para pejalan kaki, mobil dan pengendara motor terutama para tukang ojek (Secara objektif, kadang brutal) di pagi dan siang harinya.
Rumor yang berkembang dalam masyarakat setempat, terutama oleh ibu-ibu rumah tangga yang tahu peristiwa tersebut karena sering ketika pergi shalat ke mesjid melewati rumah si wiraswastawan menyebutkan bahwa pelakunya tak jauh-jauh dari orang yang dekat dari rumah tersebut terutama mengacu pada tukang ojek dan para pemuda pengangguran yang sering berjalan melewati rumah tersebut.
Komunitas lingkungan yang berkesan 'siapa loe, siapa gue' mempositifkan rumor tersebut ditambah ciri-ciri negara Indonesia yang sedang berkembang seperti tidak cukup makan, ketergantungan ekonomi, pengangguran terselubung sangat besar, tingkat pendidikan yang masih rendah dan lain sebagainya. Para pejalan kaki terutama para pemuda pengangguran yang melewati rumah tersebut berpikiran; "Wah, pemilik rumah ini kok nggak bermuka masam ketika gue lewati di depan rumahnya ya? Padahal penampilan gue dekil en kaya' maling ini...mmm...mungkin dia maling juga tapi berdasi....mending gue kontak teman-teman gue buat mencuri sebelah pagar besi dari rumahnya ini,,,khan lumayan bisa dijual buat beli rokok en celana jean levi's terbaru, biar gue bisa kelihatan gaya kaya' Ariel Peterpan dihadapan teman-teman en cewe' gue!". Begitu juga dengan tukang ojek yang bisa saja bertransisi peran menjadi maling lewat konflik peran yang muncul dengan pemikiran; "Ah, gue tukang ojek yang keren ini en sering lewat di depan rumah ini kok nggak pernah di 'booking' oleh yang punya rumah ini ya? sekurang-kurangnya dikasih senyuman kek biar gue nggak tambah stress! Gue jadi keren kaya' gini khan butuh modal yang nggak sedikit en mahal harganya...nggak tau apa dia? Mmm...mending gue curi aja pagar besinya sebelah, khan nanti bisa gue jual secara kiloan pada tukang besi dekat pangkalan ojek...lagi pula gue udah mengamati perilakunya sehari-hari...ntar malam dech gue coba praktek!".
Pada akhirnya masalah kemiskinan memang sering menyebabkan orang bermulti status-ria, baik dari yang positif ke negatif maupun dari negatif ke positif (Berlaku kenisbian budaya) dimana faktor kemalasan dan sikap tidak mau bekerja keras untuk merubah nasib, rajin dan sungguh-sungguh dalam bekerja bisa saja menjadi asal dari kemiskinan tersebut selain faktor dari individu yang berstatus lebih tinggi dari mereka dalam memperhatikan situasi dan kondisi kehidupan mereka sehingga kemiskinan yang menyebabkan 'maling yang multi status' lainnya dalam masyarakat tak bakal terjadi.
"Di dalam Masyarakat, Individu Punya Multi Status"; Dra. Mira Elfina M. Si
Jmt 211207
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment