Sunday, October 25, 2009

CINTA DAN RASIONALITAS

CINTA DAN RASIONALITAS



"Terkadang cinta bisa mengalahkan rasional!"; begitu kata-kata mutiara yang penulis dengar dari penyiar salah satu media komunikasi radio dimana secara tidak langsung sejalan dengan perannya maka kata-kata tersebut akan bisa mempengaruhi pikiran individu dalam masyarakat terhadap arti cinta itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, Balai Pustaka, 1990), pengertian cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau rasa sayang (kepada), atau pun rasa sangaat kasih atau sangat tertarik hatinya. Jadi, disini cinta berkaitan juga dengan konsep humanistis dalam Sosiologi Perilaku yang Menyimpang karena menyangkut insan yang memiliki perasaan/keinginan dan kemampuan untuk merasakan yang dalam hal ini menyangkut rasa sayang dan kasih tersebut.

Rasionalitas itu sendiri secara Sosiologis bisa diartikan sebagai penggambaran ulang terhadap suatu situasi yang pahit agar supaya dapat diterima baik secara pribadi maupun secara umum. Jadi disini rasionalitas tersebut berwujud abstrak (tidak kongkrit) dimana cara pandang terhadap diri sendiri yang dibentuk oleh seseorang dengan cara menginterpretasikan reaksi orang lain terhadap dirinya atau bahasa Sosiologisnya disebut dengan konsep diri.

Kembali pada perkataan penyiar diatas bahwa yang namanya cinta bisa mengalahkan rasional. Hal tersebut bisa saja terjadi dan sering dijumpai ditengah-tengah masyarakat (Dalam hal ini termasuk cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotis, cinta diri sendiri dan cinta terhadap Allah a la Erich Fromm) dimana pernyataan; "Elu yang jatuh cinta kok gue dan orang lain yang susah sih!" bisa saja terlontar lewat interaksi sehari-hari karena perilaku orang yang jatuh cinta terkadang sering irrasional seperti seorang sopir bis kota jatuh cinta pada penumpang wanitanya dan mulai membunyikan tape bisnya dengan volume yang tinggi dan dengan sound system yang 'pecah' dan tak bermutu serta memutar lagu-lagu tentang cinta dari band semacam Ungu, Samson, Kangen dan lain sebagainya tanpa memperdulikan penumpang lainnya yang mulai merasa 'pecah kuping' nya karena tindakan si sopir yang rasionalnya sudah dikalahkan oleh rasa cintanya terhadap si penumpang wanita tadi sehingga konsep dirinya secara tak langsung akan ikut berpengaruh dalam hal bagaimana dia membawa bis kota yang dikemudikannya nanti, apakah makin semangat atau malah tambah loyo karena larut dalam lagu cinta yang diputarnya tersebut. Tak jarang juga rasa cinta membuat orang berperilaku menyimpang seperti alkoholisme, hubungan seks di luar nikah, penyalahgunaan narkotika maupun homoseksualitas karena rasionalitasnya yang telah dikalahkan oleh rasa cinta tersebut. Hal demikian secara Sosiologis bisa saja terjadi karena kungkungan dalam diri maupun aturan-aturan yang berasal dari luar dirinya yang kurang ("Ah, Si Ani sungguh telah membuatku patah hati, lebih baik aku memberi cintaku pada si Alex Gay yang sudah lama jatuh hati padaku!", atau "Seteguk arak bisa membuaku terlihat jantan di depan si Rina yang kucintai!" serta "Selinting gele gue rasa bisa menimbulkan ilham untuk menciptakan puisi cintaku buat si Mira!" dan lain sebagainya). Akhirnya memang harus kita sadari bahwa kalau cinta sudah ditembakkan oleh Dewi Amour lewat panah asmaranya ke hati kita dan sudah 'tertancap' dengan sedemikian rupanya secara Sosiologis harus dikembalikan pada status kita masing-masing.



Akhir tahun 2007

No comments:

Post a Comment