OBYEKTIVITAS
Dalam terminologi Sosiologi, obyektivitas (objektif) dapat diartikan sebagai pengamatan dan penerimaan kenyataan (fakta) sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang dikehendaki oleh seseorang. Perlunya bersikap objektif bagi seseorang di kehidupan sehari-hari dalam artian dia bisa melawan prasangka dari dirinya sehingga tidak melarikan diri ke perbuatan deviasi perilaku menyimpang seperti mengkonsumsi ganja untuk memperoleh ‘kenikmatan’ dan sebagai ’penenang’ karena telah melihat fakta yang tidak sesuai dengan keinginan, kepentingan atau pun nilai-nilai yang dimilikinya (“Ah, mending gue ikutan nyimeng dech, biar kelihatan keren kaya’ si Kaka Slank itu, ntar gue yang ganteng ini kalah keren ama dia yang oleh cewek-cewek kalo gue lihat berambut gimbal dengan wajah yang tak ganteng tapi bisa disebut keren!”) mau pun bentuk deviasi lainnya.
Kenyataan/fakta yang ada dan ditemui ditengah lingkungan masyarakat akan menentukan tingkat obyektifitas seseorang selain motivasi dan kebutuhannya dalam berperilaku tersebut. Seorang tukang ojek yang baru membeli sebuah sepeda motor bebek yang baru (Secara kreditan) akan diuji tingkat keobjektifannya ketika melihat motor bebek yang dipakai oleh orang atau ’ojeker’ lainnya. Ketika dalam komunitas sesama tukang ojek, si A (Tukang ojek yang punya bebek baru) seketika melihat si B yang kelihatan baginya lebih keren karena punya ’bebek’ lebih baru dari dirinya (“Bahkan, spedometernya ada layar VCD segala, he..he…he…!”). Keobjektifitasan si A tentu dengan berpikiran; ”Ah…si B motornya ternyata memang kaya’ sepeda motor, beroda dua, ada stangnya, ada tempat duduknya, pake kaca spion, ada tutut pentinnya dan lain sebagainya…”. Hal itu bertolak belakang bila dinyatakan lewat subjektifitasnya yang kira-kira berpikiran; ”Sialan…si B motornya lebih funky dari gue; pake VCD lagee, hmmm…mungkin itu motor curian…baiknya gue kempesin aja sekalian ban motornya secara diam-diam sewaktu mangkal dipangkalan ojek…ntar gue nggak dapat penumpang yang kebanyakan cewek di komplek ini lagi karena kurang keren dibanding dia!”. Seorang remaja yang berpakaian U can see ato tanktop sekalipun dan serba ketat mungkin akan bisa dipandang secara objektif bagi orang-orang yang sepergaulan dengannya namun mungkin tidak demikian halnya oleh ibu-ibu rumah tangga yang bisa saja berpikiran lewat komentar; “Uh…lihat tuh si Ani anak ibu’ Ija; pakaiannya serba ketat kaya’ lonte aja…nggak tau apa kalo ibunya hanyalah seorang babu!” (Hal ini merupakan sanksi masyarakat bertipe negatif dimana ‘muka masam’ maupun gosip ato isu bisa saja diterima oleh deviant dari suatu komunitas). Hal tersebut bila diobjektifkan tentu dengan pemikiran semisal; ”Mungkin aja cewe’ tu sedang ngikutin trend kaya’ rocker cewe’ yang lagi populer di televisi en takut dibilang ku-per oleh teman-temannya!” atau pun terhadap si ibu rumah tangga; ”Hmmm…mungkin saja si ibu ini lagi iri dengan keseksian tubuh si cewek itu!” ataupun, “Dasar ibu rumah tangga cerewet, abis pikirannya pada sempit karena sibuk di dapur, kasur dan sumur terus sich!”.
Akhirnya (sikap) obyektifitas memang diperlukan bagi setiap individu dalam masyarakat, baik itu terhadap musik (Group band yang ada), pakaian, handphone, fisik manusia dan lain sebagainya terutama seperti kata Auguste Comte - masyarakat positif, metafisik apalagi yang masih berada ditahap teoritis - agar anomi (Keadaan suatu masyarakat yang tidak memiliki serangkaian norma dan nilai yang konsisten yang dapat dihayati dan diikuti orang) tidak terjadi dalam masyarakat tersebut.
0912070
07.40 mlm
Monday, October 26, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment