Monday, October 26, 2009

Mengobservasi Partisipasi Kompleks Pertokoan Matahari Lama

Mengobservasi Partisipasi Kompleks Pertokoan Matahari Lama

(Atom Centre)


Sudah menjadi rumor rahasia umum bahwa Kompleks Pertokoan Matahari Lama (Atom Centre) yang berada di kota Padang telah menjadi semacam tempat berlangsungnya praktek prostitusi terselubung. Tempat tersebut menjadi populer bagi para Deviant yang ingin melakukan tindak Deviasi dengan para pelacur disana yang tergolong kelas bawah dengan bayaran sekitar 50 ribu kebawah.

Suatu saat observer bersama dengan seorang teman pergi berkunjung kesana. Disamping kiri-kanan lokasi terdapat dua lorong menuju ke tempat permainan bilyar yang bersebelahan dengan toko alat-alat olahraga dan souvenir. Untuk menuju ke lokasi harus menaiki jenjang sekitar 20 buah. Setiba di lantai II, dikiri-kanan terdapat warung-warung kecil tempat berjualan teh, mie instant, kopi dan makanan kecil lainnya. Bila kita berjalan lurus kedepan dan memutari sepanjang kompleks pertokoan terdapat satu dua buah toko yang dijadikan sebagai usaha sablon stiker, baju, stempel dan lain sebagainya. Selanjutnya disepanjang ’mantan’ pertokoan Matahari tersebut dirubah menjadi salon dengan papan nama Lili, Yanti maupun Rina salon.

Bila kita sudah mengetahui rumor tentang lokasi tersebut, tak disangsikan lagi tindakan sosial kaum wanita yang sedang duduk di depan salon tersebut. Bila diamati, sekitar dua sampai tiga orang duduk diatas kursi plastik persis di depan salon. Penampilan mereka seperti ‘beralkuturasi’, baju kaos ketat ‘ala Bule’, celana jeans ketat, memakai bedak dan lipstik serta ada yang sedang menghisap rokok putih, hal seperti ini sepertinya semacam tindakan sosial dengan tujuan tertentu atau apakah sekedar ingin mempositifkan konsep dirinya. Selain itu, bila di observasi ada yang sedang membuat kerumunan di depan sebuah warung mie yang ada disana sambil berinteraksi dan bermain domino seta ada yang sedang berjalan-jalan disepanjang lorong pertokoan tersebut.

Bla kita berjalan disepanjang lorong salon tersebut, ketika lewat dihadapan mereka, umumnya mereka berkata, “A kaba Da…masuaklah…duduak di dalam lu!”. Kata-kata tersebut menjadi semacam interaksionisme simbolik yang diartikan meminta kita untuk masuk ke ruangan salon. Bila kita masih memiliki sisi Humanis, kata-kata mereka cukup dijawab dengan “Ala tadi..!” sehingga tidak dianggap Sosiopatik dalam komunitas tersebut sambil berjalan melalui mereka.

Selain observasi, observer tertarik juga untuk melakukan observasi partisipasi dengan para deviant tersebut. Ketika melewati sebuah salon, saat disapa seperti itu peneliti mengangguk dan Deviant segera menuntun observer masuk ke dalam ruangan salon tersebut. Bila di observasi, ruangan sekitar yang seluas 2 kali 2 meter dengan cermin besar di dinding, botol-botol minuman, kursi-kusi plastik dan dibagian belakang ada ruangan berisi kasur yang ditutupi dengan tirai kain dengan suasana ruangan yang pengap. Deviant mengajak observer untuk berkomunikasi dulu sambil minum the botol seharga tiga ribu perak. Bila diamati, penampilan Deviant hari itu memakai topi pet dengan rambut panjang hitamnya yang dibiarkan tergerai melewati celah di bagian belakang topinya, memakai lipstik dan bedak pemutih wajah, baju ketat selengan dan celan keans ketat.

Dalam interaksi tersebut terjadi sebentuk komunikasi yang sifatnya positif dimana diketahui bahwa Deviant bernama Yulia dan berumur 22 tahun, berasal dari daerah Pesisir Selatan dan bayarannya untuk sekali melakukan tindakan deviasi sebesar 50 ribu rupiah dimana 30 ribu untuk ‘mami’ dan sisanya untuk diri sendiri. Suatu hal yang cukup menyentuh sisi Humanis kita, ditengah Globalisasi yang melahirkan budaya konsumen bagi kaum perempuan saat ini. Sebelum pamit, Deviant terlihat begitu gigih meminta observer untuk terlebih dahulu memakai jasanya namun dengan alasan belum cukup uangnya maka peneliti dibiarkan pergi dengan terlebih dahulu memberi uang sebesar sepuluh ribu untuk membayar minuman.

Selain itu, observer juga menyempatkan diri untuk melakukan pengamatan dengan terjun langsung yang dlakukan disalah satu salon lagi, masih berada disekitar kompleks tersebut. Seorang perempuan berumur sekitar 25 tahun keatas berbadan agak gemuk, berkulit agak hitam (ras Indic ‘ala Melayu’), memakai bedak dan lipstik serta baju kemeja lengan pendek ketat hitam serta celana jeans ketat berwarna hitam. Ketika akan lewat didepannya, tanpa basa-basi langsung mengajak kedalam ruangan salon. Sesampainya didalam, diatas kursi panjang observer duduk berdua dengannya. Sikapnya yang agresive terlihat ingin sekali mengajak pengamat untuk melakukan tindakan Deviasi berupa hubungan seks diluar nikah dengan sesekali tangannya membelai, meraba sekitar paha observer. Stimulus yang diberikannya seperti itu membuat respon instink seksual/libido dari observer. Tapi dengan keimanan yang ada, lagipula Deviant yang terlalu positif konsep dirinya (bukan ‘selera’) jadinya dialihkan ke pembicaraan-pembicaraan umum tentang dirinya dan ditanggapinya dengan baik. Dari sebentuk wawancara bebas tersebut, dia mengungkapkan bahwa dirinya sudah lama bekerja sebagai pelacur tersebut dan ketika pengamat tersentuh sisi humanis karena melihatnya dan menawarkan pekerjaaan yang sempat observer lihat di sebuah rumah makan dia tidak berkenan menerimanya (apakah ‘pasrah’ dengan statusnya ataukah pekerjaan melacur tersebut menjadi suatu prestise baginya, wallahu ‘alam). Akhirnya ketika pengamat meminta permisi dia berkata, “minta’ piti ketek sapuluah ribu la!”, akhirnya observer memberikan juga padanya uang sebesar yang diminta tersebut sambil berlalu keluar dari tempat tersebut dengan teman observer.

No comments:

Post a Comment