Monday, October 26, 2009

STATUS DATUK/PENGHULU DALAM MASYARAKAT KAPITALIS

STATUS DATUK/PENGHULU DALAM MASYARAKAT KAPITALIS



Datuk atau Penghulu merupakan sebuah status dalam komunitas adat Minangkabau dan umumnya dijumpai dalam masyarakat yang belum mengenal praktek berbau kapitalisme atau bisa dikatakan masih belum bersifat positivis (a la Comte). Dalam komunitas tersebut penampilan peran seorang datuk/penghulu diindikatori dengan memakai ‘Destar Bakatak’, yaitu penutup kepala yang berasal dari kain hitam yang dililitkan ke kepala dengan sedemikian rupa, memakai pakaian hitam tidak berkantong dan celana hitam yang memiliki disain khusus.

Peranan dari status seseorang sebagai datuk/penghulu merupakan sebagai pemimpin (‘Terlepas dari apakah datuk/penghulu tersebut mencontoh gaya kepemimpinan Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur maupun S.B.Y sekalipun!’) dalam sebuah kaum yang merupakan kelompok keluarga dalam sebuah klan dan tak akan terlepas dari seorang ‘Niniak Mamak’ yang bertanggung jawab dan menjaga anak-anak serta kemenakannya sehingga tidak akan merendahkan statusnya sebagai seorang datuk/penghulu dalam masyarakat.

Masyarakat prakapitalis atau masih ditahap teoritis atau metafisik a la Comte dimana kedatangan ‘para pendatang’ (‘Apakah lewat ‘pulang basamo’ dan sebagainya’) yang akan membawa cita rasa akulturasi (Citra rumah gadang digantikan oleh citra rumah yang lebih bernuansa modern - Sungai Jambu) memungkinkan akan timbul sebentuk anomi maupun kapitalis terselubung bagi individu dalam komunitas dimana datuk tersebut berada (‘Anak muda kampung dengan penampilan a la personel band Peterpan kok ngurusin masalah perdatukan?’). Secara scientific status seseorang sebagai datuk/penghulu - yang dalam hal ini ketimpangan antara apa yang diharapkan (Das Sein) dengan apa yang terjadi (Das Solllen) dari status dan peranannya dalam komunitas atau masyarakat sangat ditentukan oleh tuntutan dari masyarakat dimana dia berada. Bila seorang datuk tersebut berada dalam masyarakat Kapitalis maka status seorang datuk kemungkinan akan berperan dengan semestinya yaitu untuk memimpin kaumnya karena atribut-atribut sosial seorang datuk akan dimodali oleh komunitas/masyarakat dimana ia berada (‘Ah, baiknya datuk kita tersebut kain hitam untuk penutup kepalanya kita carikan yang mereknya Calvin Clein karena sudah diketahui berkualitas bagus!’) sehingga penampilan seorang datuk dalam kepemimpinannya akan bernilai positif (Kaum cewek; “Wah, datuk kita keren dan berselera tinggi ya, liat aja kain yang dipakainya…buatan luar negeri gitchu lho!”) sehingga apa-apa yang menjadi buah tutur dan buah pikirnya dalam kepemimpinan akan berjalan dengan bagus dan ia nantinya takkan mungkin mentransisikan perannya sebagai junkie, banci, pembunuh maupun label devian lainnya. Hal tersebut dimisalkan suatu saat dia berada ditengah kemenakannya yang terkena pengatuh media komunikasi sehingga berpenampilan a la personil band Peterpan yang mereka anggap keren sehingga Id nya akan cenderung berkata; “Ah, mereka khan para kemenakanku, sebaiknya aku beradaptasi dengan mereka!”. Saat beradaptasi tersebut superegonya akan cenderung menyuruhnya untuk memakai atribut sosial yang mempositifkan konsep diri dan statusnya sebagai seorang datuk ditengah Peterpan mania tersebut. Saat ada kemenakannya yang berkomentar; “Ah, datuk kita nggak funkeeh, katrok, masa’ pakaiannya nggak kaya’ anak muda jaman sekarang, kuno ah!”. Stimulus lewat komentar seperti itu akan cenderung membuatnya menjadi devian kalau egonya tidak merespon dengan ucapan; “Ah, Kamu yang katrok, baju tiga seribu yang dijual di kaki lima aja dibilang keren, ini pakaian keluaran Amrik sono tau!”, sehingga statusnya akan berperan dengan semestinya dalam msyarakat kapitalis tersebut. Begitu juga dengan peranannya dalam menghadapi bentuk akulturasi lainnya.

Secara humanistis, bahwa status seorang datuk/penghulu akan dipengaruhi oleh pandangan bahwa individu merupakan insan yang memiliki perasaan/keinginan dan kemampuan untuk merasakan. Jadi disini, bahwa seorang datuk/penghulu yang ‘menjemput bola’ akan mungkin terjadi dan berperan seiring dengan statusnya tersebut. Seorang datuk/penghulu yang berada ditengah-tengah anak-anak atau kemenakannya ataupun ‘para gadis’ akan merasakan ucapan ‘Penghulu kuno, wong ndeso, katrok dan sebagainya’ karena dilihat tidak berpenampilan keren oleh para anak-anak dan kemenakannya. Hal tersebut memungkinkan penghulu tersebut untuk ‘menjual apa yang bisa dijual’ maupun ’berkorupsi ria’ yang diasumsikan karena memegang teguh adat (“Ah, gue khan bangsawan di kampung ini, masa’ sih gue kelihatan kere, mending gue tilap tuh duit sumbangan pembangunan mesjid!”) selain melakukan perbuatan deviasi dan penyimpangan sosiopatik lainnya karena humanis yang dimilikinya sejalan dengan keberadaannya dalam masyarakat kapitalis.



Sls 161007

10.30 siang

No comments:

Post a Comment