Monday, October 26, 2009

Tipologi Adaptasi dari 'Jilbab Gaul'

Tipologi Adaptasi dari 'Jilbab Gaul'

Istilah 'Jilbab Gaul' di sini dikonsepkan dengan sebagai jenis pakaian kaum perempuan dengan memakai celana panjang ketat atau rok terbelah, baju ketat dan pendek ditambah dengan kerudung atau jilbab yang hanya menutupi kepala sedangkan bagian leher dan dada biasanya dibiarkan terbuka. Menurut Robert K. Merton terdapat lima tipe cara seorang individu dalam beradaptasi terhadap suatu situasi yaitu konformitas (mengikuti cara dan tujuan yang ditentukan masyarakat), inovasi (menerima tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang di idam-idamkan masyarakat tapi menolak norma-norma atau kaidah yang berlaku), ritualisme (menerima cara-cara yang diperkenankan secara kultural namun menolak tujuan-tujuan kebudayaan), pengasingan diri (menolak tujuan-tujuan yang disetujui maupun car-cara pencapaian tujuan itu) dan pemberontakan (apabila seseorang menolak sarana, maupun tujuan yang disahkan oleh kebudayaan dan menggantinya dengan yang lain).

Satu kesimpulan bahwa jilbab gaul merupakan suatu bentuk Inovasi dari cara seorang individu (dalam hal ini khususnya kaum perempuan) dalam beradaptasi dimana fungsi manifestnya sebagai penutup aurat sementara fungsi latentnya untuk beradaptasi dengan lawan jenis. Dalam hal ini seorang perempuan yang memakai pakaian seperti itu berusaha untuk mampu dalam beradaptasi dengan lawan jenisnya lewat kontak sosial dan komunikasi yang bersifat positif. Pemakaian jilbab gaul tersebut merupakan pencapaian tujuan yang dilakukan dengan cara yang tidak biasa (konvensional) dan termasuk cara-cara yang dilarang oleh pemuka-pemuka agama. Dalam hal ini jilbab gaul bila dipandang dari pranata agama merupakan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan aturan syariah Islam karena tidak memenuhi kaidah dan syarat dalam tujuan berbusana yang terlihat dengan ketatnya busana sehingga terlihat lekuk tubuh Dalam hal ini, bila dianalisa lebih jauh bahwa pemakaian jilbab gaul menerima secara kritis cara-cara pencapaian tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai budaya.

Tujuan dari beradaptasi dan berinteraksi dalam Sosiologi sendiri adalah untuk menciptakan keteraturan sosial didasarkan atas efisiensi (Mempererat dan mengatur pergaulan manusia) dan keefektifan (Untuk mencapai tujuan hidup sesuai dengan nilai-nilai sosial) sehingga dalam hal ini diasumsikan bahwa kaum perempuan yang berjilbab gaul tersebut bermaksud mencari pasangan hidupnya. Jadi dalam hal ini objek menerima tujuan-tujuan budaya yaitu memakai jilbab agar mematuhi pranata agama yang berlaku di suatu komunitas. Selain itu kontrol diri individu yang memakai jilbab gaul tersebut berlaku juga seperti hubungan dengan keluarga yang masih baik sebagai pengawas dirinya dari tindakan perilaku menyimpang namun disini kaum perempuan yang memakai jilbab gaul tersebut menolak adat yang berlaku seperti tidak bolehnya bergaul dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Dalam hal ini kaum perempuan yang memakai jilbab gaul tersebut berupaya untuk mencapai tujuannya dalam melakukan sosialisasi sekunder (Proses sosialisasi yang memperkenalkan kepada individu tersebut sektor-sektor baru dunia objektif masyarakat) lewat bergaul dengan lawan jenisnya sehingga menempuh cara baru yang tidak biasa (konvensional) dan menimbulkan konflik tersendiri dari berbagai kalangan yaitu dengan memakai jilbab gaul tersebut.

Adapun yang dimaksud dengan pengawasan diri yang berasal dari dalam dirinya berupa kungkungan dalam diri berupa:

1. Keimanan

Dalam hal ini keimanan akan nilai-nilai agama yang berkaitan dengan permasalahan pakaian jilbab menjadi aspek pengawas dirinya dari perbuatan menyimpang.

2. Konsep Diri

Dalam hal ini secara tak langsung berarti tujuannya dalam memakai pakaian jilbab gaul tersebut, apakah sebagai suatu tindakan sosial (Tindakan seseorang yang memiliki arti dan makna subjektif bagi dirinya dan diarahkan serta mengacu pada tindakan orang lain) atau untuk menjadi pengontrol dirinya dari penyimpangan.

3. Kekuatan Ego

Hal ini bisa diartikan sebagai kepercayaan dirinya untuk mengambil suatu sikap bila terlibat dalam satu bentuk perilaku yang mengarah pada penyimpangan selama bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain dimana semua ini bisa di dapat dari proses pendidikan informal maupun formal.

Adapun yang dimakud dengan pengawasan diri yang berasal dari luar diri individu yaitu berupa kungkungan yang datang dari luar dirinya berupa aturan-aturan yang berasal dari luar diri individu itu sendiri seperti dari Polisi, orang tua ataupun teman-temannya yang akan menjadi aspek pengawas dirinya dari tindakan perilaku menyimpang di suatu kebudayaan.

Mgu 231207 12:0

No comments:

Post a Comment